Sabtu, 05 Oktober 2013

05
Okt

About me

Nissa Rachmawati. Anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Bandung pada tanggal 10 Desember 1995. Anaknya mungil tapi lincah bener. Itu yang bikin dia bisa masuk SD tanpa lulus TK. yap. Bener. TK Taman Firdaus tidak sepenuhnya meloloskan anak ini karena sebenarnya dia anak yang cengeng. Tapi akhirnya dia bisa juga masuk SD namun dengan ukuran yang lebih kecil dari teman teman sebayanya. Enggak hanya itu, anak ini tetep bisa ngejar yang lain buat bisa hidup didunia per-SDan. 6tahun berjalan menyenangkan, sampailah ia pada dunia per-SMPan di daerah Jatinangor, Sumedang. Terkekang, mungkin. Tapi tak ada memori yang lebih nano-nano dibandingkan kehidupan disebuah pesantren. Pahitnya, manisnya, sampai kecutnya selalu ada disana. 3tahun berjalan sukses sampai bingunglah ia memilih jenjang sekolah atas. Perjuangan memang diuji. Tapi si anak ingin mewujudkan cita-cita sang ayah untuk bersekolah di sebuah SMA negeri 24 Bandung. Dan dengan bantuan doa dari pihak keluarga dan usaha yang hampir optimal (bukan maksimal) dia pun lolos. Banyak sebenarnya keberuntungan yang selalu dimiliki anak ini. Jika dipikir-pikir dengan NEM 35,25 itu bahkan tidak memenuhi syarat masuk ke SMAN 24. ada temannya yang memiliki NEM 36 tidak lolos masuk ke sana. Dan setelah ditelusuri sebab-akibatnya, anak ini tingga di perbatasan KOTA Bandung. dan temannya di KABUPATEN Bandung. Uh. begitu diskriminasi tempat tinggal, yes? Disini ia bukan ia yang dulu. Masuk ke sekolah yang lumayan bagus memang butuh perjuangan lebih. Ia terlalu terbawa suasana santai karena punya sugesti bahwa ia tak bisa seperti mereka, ia tak akan mampu meraih ini itu. Terseret-seret dibelakang siswa yang brilian, ia 4 kali meraih peringkat 16. Stuck. Hingga ia sadar ia berada di penghujung SMA dan masih bersikap seperti anak SD yang tak lulus TK. Sebuah tempat bimibingan belajar merubah sang anak menjadi sosok yang ingin berjuang. tidak spontan memang tapi itulah perubahan. Perguruan tinggi. Semua berjuang mati-matian demi masa depan mereka. Cita-cita sang anak masuk ke sekolah seni tidak terlaksana. Tapi takdir dengan segala manfaat yang bisa ia ambil disinilah ia. Pendidikan Biologi UPI. Keinginannya untuk menjadi seniman, memang masih ada. Tapi itu akan berjalan bersama dengan ilmu kehidupan, atau biologi ini. Mungkin saja ini membantunya menuju hal hal yang cita-citakan kedepannya. Aamiin.

2 komentar:

  1. Deskripsi profilenya menarik, dik :) *menuakan diri, padahal emang asli uda tua*.

    paling suka dengan tiga kalimat terakhir... Percayalah someday cita-citamu akan tercapai...titip salam untuk dosen-dosen di Biologi UPI, khususon buat Bu Rini, Bu Tina, dan Pak Bambang S yaa... :D *baru kenal langsung ngerepotin* heuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, InsyaAllah akan saya sampaikan :)

      Hapus

  • .

    .
  • .

    .
  • .

    .
  • .

    .